Sejarah Pengumpulan Al Quran (Abu Bakar)

25 Apr

Sekilas Tentang Pengumpulan Alqur’an

Yang dimaksud dengan pengumpulan alquran ( Jam’ul qur’an ) oleh para ulama adalah dari dua pendapat berikut :

Pertama, pengumpulan dalam arti hifzuhu ( menghafalnya dalam hati ).

Kedua, pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi ( penulisan al qur’an semuanya ).

Pengumpulan al qur’an secara global terbagi menjadi tiga fase, yaitu dimulai pada masa Rosulullah SAW. Dalam fase ini para sahabat menuliskan wahyu yang diterima dari Rosulullah dalam lembaran-lembaran kulit, kulit kayu dan lainnya. Mereka juga menghafal setiap kali menerima ayat alqur’an. Pada fase ini Rosulullah tidak mengizinkan mereka menulis apapun selain Alqur’an,sebab ditakutkan tercampur aduk dengan yang lain.[1]

Sekalipun Rosulullah pernah mengizinkan sebagian sahabatnya untuk menuliskan hadits, sesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan alqur’an masih tetap bersandar pada riwayat,yaitu melalui talqin.[2]

Sehingga banyak dijumpai para sahabat yang mampu menghafal alqur’an secara keseluruhan pada zaman Rosullah SAW.  Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan terdapat tujuh sahabat yang hafal alqur’an diluar kepala dan telah menunjukkanya kepada Nabi. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qol, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.

Fase kedua adalah pada masa Abu Bakar Ash Shidiq. Pada fase ini pengumpulan alquran dilakukan karena banyaknya penghafal alquran yang gugur dalam berbagai peperangan. Sehingga demi menjaga keutuhan alqur’an, Umar mengusulkan pengumpulan alqur’an dan disetujui oleh Abu Bakar selaku Khalifah. Pembahasan lebih lanjut akan penulis uraikan dalam isi makalah.

Fase ketiga adalah pada masa Khalifah Utsman Bin Affan. Bertambahnya wilayah kekuasaan islam membawa konsekuensi tersendiri. Tak terkecuali pada Al qir’an. Dimana ummat islam di berbagai wilayah mempelajari alquran sesuai dengan dialeknya masing-masing. Cara baca yang berbeda-beda sejalan dengan perbedaan huruf yang diturunkan telah menimbulkan perselisihan diantara kaum muslim. Bahkan sampai tingkat mengkafirkan. Dan untuk menghindari perselisihan, khalifah Utsman mengambil kebijakan untuk membuat standarisasi pembacaan alquran berdasarkan mushaf yang ada pada Hafsah. Setelah disalin alquran tersebut dikrim keberbagai wilayah dan memerintahkan alqur’an yang lain untuk dibakar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Sebab-sebab Pengumpulan Alqur’an

Alqur’an adalah mukjizat islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah SWT menurunkannya kepada Rosulullah Muhammad SAW, demi membebaskan manusia dari kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rosulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya. Para sahabat berlomba-lomba untuk menghafal, memahami dan mengamalkannya dalam aktifitas hidup sehari-hari.

Abu abdirrahman As Sulami meriwayatkan, bahwa orang-orang yang biasa membacakan alqur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah ibnu Mas’ud serta yang lainnya; apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan “kami mempelajari alqur’an, ilmu, dan amal sekaligus”.[3]

Oleh karenanya alqur’an dengan sendirinya terjaga di dada para sahabat. Ketika Rasulullah SAW berpulang ke Rahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan risalah dan amanah, menasehati ummat serta memberi petunjuk. pada agama yang lurus. Setelah beliau wafat kekuasaan dipegang oleh Abu Bakar Shiddik ra.

Ketika masa kekhalifahan Abu Bakar, beliau banyak dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa pemurtadan. Karena itu beliau menyusun kekuatan dan mengirimkan pasukan untuk menumpas gerakan tersebut. Dari sekian banyak pasukan yang dihimpun termasuk didalamnya adalah sahabat-sahabat senior yang menyimpan alquran di dalam dadanya.

Dalam peperangan yamamah jumlah yang terbunuh dari pihak musuh adalah 10.000 orang dan ada juga yang meriwayatkan 21.000 orang. Sedangkan dari pihak ummat islam yang terbunuh adalah 600 orang, ada yang mengatakan 500 orang. Diantara yang terbunuh banyak terdapat sahabat Nabi yang senior.[4] Tujuh puluh diantaranya adalah para qori’.

Hal tersebut membuat Umar ibnu Khattab merasa khawatir akan keberlangsungan alqur’an. Lalu ia menghadap khalifah Abu Bakar dan mengajukan usul untuk mengumpulkan dan membukukan Alqur’an.

Proses Pengumpulan Alqur’an

Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan risalah dan amanah, menasehati ummat serta memberi petunjuk. pada agama yang lurus. Setelah beliau wafat kekuasaan dipegang oleh Abu Bakar Siddik ra

Pada masa pemerintahannya Abu Bakar banyak menghadapi malapetaka, berbagai kesulitan dan problem yang rumit, diantaranya memerangi orang-orang yang murtad (keluar dari agama Islam) yang ada di kalangan orang Islam, memerangi pengikut Musailamah al-Kadzdzab.

Peperangan Yamamah adalah suatu peperangan yang amat dahsyat. Banyak kalangan sahabat yang hafal Al-Qur’an dan ahli bacanya mati syahid yang jumlahnya lebih dari 70 orang huffazh ternama. Oleh karenanya kaum muslimin menjadi bingung dan khawatir. Umar sendiri merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar yang sedang dalam keadaan sedih dan sakit. Umar mengajukan usul (bermusyawarah dengannya) supaya mengumpulkan Al-Qur’an karena khawatir lenyap dengan banyaknya Khuffazh yang gugur, Abu Bakar pertama kali merasa ragu.

Setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilai-nilai positifnya ia memandang baik untuk menerima usul dari Umar. Dan Allah melapangkan dada Abu Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut, ia mengutus Zaid bin Tsabit dan mengajukan persoalannya, serta menyuruhnya agar segera menangani dan mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushhaf. Mula pertama Zaid pun merasa ragu, kemudian iapun dilapangkan Allah dadanya sebagaimana halnya Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Zaid bin tsabit berkata, “ Abu Bakar Ash shidiq mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh pada perang Yamamah. Ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin Khatthab berada disampingnya, maka Abu Bakar berkata, ‘Umar mendatangiku dan berkata,’ Sesungguhnya banyak para Qurra’ penghafal alqur’an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para qorri’ yang masih hidup kelak terbunuh dalam peperangan, dan itu akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat alqur’an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan untuk segera mengumpulkan dan membukukan alqur’an.[5]

Aku bertanya kepada Umar,’ Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosulullah SAW?, Umar menjawab,’ Demi Allah ini adalah kebaikan!. Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akupun setuju dengan pendapat Umar.[6]

Setelah mengambil keputusan untuk membukukan alqur’an. Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan alqur’an dari berbagai tempat penulisan. Baik yang ditulis pada kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal didada kaum muslimin.awal penulisan ini terjadi pada tahun 12 H.

Zaid bin Tsabit berkata,” Kemudian Abu Bakar berkata kepadaku,’Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh Amanah, dan Engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rosulullah,maka carilah ayat alqur’an yang berserakan dan kumpulkanlah. Zaid berkata,’ Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung, tentu hal itu lebih ringan bagiku dari pada melakukan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan alqur’an.”

Aku bertanya,’ Bagaimana kalian melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rosulullah? Dia berkata.’ Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan! Dan Abu Bakar terus berusaha meyakinkan aku hingga Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada mereka brdua.

Kemudian Zaid mulai mengumpulkan ayat-ayat alqur’an yang berserakan dan mengumpulkannya menjadi satu buku. Banyak kendala dihadapi, karena menjaga keaslian ayat al qur’an sehingga tidak tercampur dengan perkataan-perkataan yang lain membutuhkan tingkat kecermatan yang tinggi.

Berbekal hafalan yang telah disampaikan kepada Rosulullah ketika masih hidup, Zaid dengan teliti mencari potongan-potongan ayat alqur’an. Termasuk ayat-ayat dari surat At Taubah hingga surat Al Baro’ah yang hanya dimiliki oleh Abu Khuzaiman Al Anshory.

Imam Bukhori telah berkata,” Ibnu Syihab berkata,’ Telah berkata kepadaku Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasannya dia mendengar Zaid berkata,’ Aku tidak mendapatkan satu ayat dari surat Al Ahzab ketika kami menulis alquran dalam satu mushaf. Sementara aku pernah mendengar Rosulullah membacanya, akhirnya ayat tersebut kami cari dan ternyata ayat tersebut ada pada Khuzaimah bin Tsabit Al Anshory, maka segera kami sisipkan ke tempatnya didalam mushaf .[7]

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya apa yang kamu rasakan, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung. (At-Taubah: 128-129).

Kemudian alquran yang telah terkumpul dan menjadi satu buku tersebut diberikan kepada Abu Bakar dan disimpan  hingga Abu bakar wafat. Setelah itu berpindah kepada khalifah Umar bin Khattab dan akhirnya berpindah kepada Hafshah binti Umar ketika Umar syahid.

 

 

 

 

 

 

Ibrah

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari shiroh diatas, antara lain:

  1. Keaslian alqur’an tidak bisa diragukan karena alqur’an dibukukan ketika banyak penghafal alqur’an yang masih hidup. Serta dikerjkan dengan ketelitian yang luar biasa.
  2. Melakukan perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rosulullah tetapi memiliki maslahah yang besar adalah boleh dan bukan bid’ah.
  3. Inisiatif kebaikan adalah hak setiap individu muslim. Tidak harus inisiatif itu berasal dari pejabat maupun pemimpin.
  4. Memberikan pekerjaan kepada ahlinya dan menentukan kriteria terhadap para pemegang amanah sehingga memiliki kualitas kelayakan.
  5. Proses belajar akan lebih efektif dengan cara mengikat ilmu dengan ditulis.
  6. Pengumpulan alqur’an sangat bermanfaat untuk generasi islam setelahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Manna Al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Alqur’an,5

[2] Ibid,5

[3]  Manna Al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Alqur’an,5

[4] Perjalanan Hidup Empat Khalifah yang Agung, 101

[5] Perjalanan Hidup Empat Khalifah yang Agung,25

[6] Ibid,25

[7] Perjalanan Hidup Empat Khalifah yang Agung,26

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: