Teori Sudut Pandang dan Queer

25 Apr

TEORI SUDUT PANDANG (Sandra Harding dan Patricia Hill Collins)

Teori sudut pandang (standpoint theory) mengkaji bagaimana keadaan kehidupan individu mempengaruhi aktivitas individu dalam memahami dan membentuk dunia sosial. Pandangan awal individu terhadap sesuatu bukanlah melalui kondisi  sosial, ekspektasi peran, atau definisi gender melainkan melalui pengalaman individu di dalamnya. Misal, pandangan feminis bukan hanya karena lokasi sosial atau otomatis karena menjadi perempuan melainkan didspatkan melalui refleksi kritis pada relasi kekuatan dan semangat yang diperlukan untuk membentuk sikap mental.

Hal yang penting bagi teori sudut pandang adalah ide pemahaman yang berlapis.Artinya kita memiliki sejumlah identitas yang tumpang tindih untuk membentuk sudut pandang kita.Termasuk hubungan ras, gender dan seksualitas.Misal, seseorang mengatakan bahwa saya adalah feminis lesbian yang beraliran marxis. Identitas yang banyak dan berpautan memudahkannya dalam membentuk sudut pandang yang menawarkan lebih banyak toleransi ambiguitas dan kesadaran akan berbagai kemungkinan daripada yang dilakukan oleh identitas pribadi. Epistemologi sudut pandang mengakui keanekaragaman identitas sebagaimana yang dibentuk oleh setiap individu.

Teori sudut pandang juga memperkenalkan elemen kekuatan terhadap permasalahan identitas.Orang yang dalam tekanan tanpa memiliki kekuatan memiliki sudut pandang yang beragam, mereka mengalami dan memahaminya dari sudut pandang yang menguntungkan.Sebaliknya, orang yang punya kekuasaan tidak perlu mempelajari dan melihat dari sudut pandang orang yang ditekan.

IDENTITAS YANG DIBENTUK DAN DITAMPILKAN

Teori ini memberikan perhatian bagi konstruksi dan penampilan kategori identitas.Dalam tradisi yang secara sosial dibentuk dan ditampilkan, teori kritik identitas menyarankan bahwa identitas ada di dalam konstruksi sosial kategori itu oleh budaya yang lebih luas. Hal ini berarti bahwa identitaas kita selalu ada dalam proses pembentukan, sebagaimana kita merespons konteks-konteks dan situasi disekililing kita. Identitas politik dilihat sebagai usaha untuk merangkai identitas.Semuanya merupakan penampilan-penampilan yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

TEORI QUEER (Judith Butler)

Istilah queer mengacu kepada makna “ganjil”, aneh, kacau. Kata queer juga sering ditujukan untuk hal yang negatif seperti kegilaan dan juga sesuatu yang ada si luar norma-norma. Asal muasal teori queer dirujuk pada Teresa de Lauretis pada tahun 1990 yang memilihnya sebagai judul konferensi yang bertujuan untuk mengacaukan kepuasan diri akan kajian lesbian dan homo.

Teori queer mencoba “mengganggu” kategori identitas dan seksualitas dengan menunjukkannnya supaya menjadi konstruksi sosial yang diciptakan dalam wacana daripada kategori yang biologis dan esensial. Teori queer berakar dari materi bahwa identitas itu tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial.Bagi Butler dan para ahli queer konstruksi gender dan seksualitas mengalamai fluktuasi, mengembangkan produksi atau penampilan daripada kategori yang mendasar, stabil dan tidak berubah.

Queer menjadi tempat peperangan yang tidak pernah usai. Contoh yang menarik dalam teori queer bukanlah saat seseorang mengungkapkan atau membentuk kategori identitas melainkan ketika seseorang itu tidak melakukannya.

Permulaan kategori queer adalah kategori gender dan seksualitas. Namun, banyak ahli yang memilih untuk tidak membatasi queer hanya pada kategori tersebut.David Halperin menjelaskan queer sebagai “apapun yang ganjil” jika dikaitkan dengan sesuatu yang normal, sah dan dominan”. Queer menunjukkan bukanlah tentang hal yang terkait dengan hal positif melainkan lebih kepada posisi jika dikaitkan dengan normatif. Menurut teori ini ibu tunggal atau hidup tanpa pasangan  bisa dikatakan queer walaupun mereka heteroseksual, karena mereka tidak mengikuti praktik heteronormative dalam kaitannya dengan pernikahan. Hal ini menjadikan queer memenuhi labelnya dengan menolak meletakkan identitas. Sullivan mengatakan “ ini merupakan kajian yang menolak untuk dijadika kajian, kajian dengan perbedaan”.

Namun ketidakstabilan label itu sendiri dan keinginannya untuk mengganggu keadaan normal telah menjadi pendorong perkembangannya. Sehingga dikenal sebagai teori antinormatif, antikategori dan antidominan.

Dalam bagian ini kita melihat bahwa tradisi sosiokultural dan kritis beriringan dalam mendifinisikan diri sendiri sebagai sebuah hasil interkasi sosial.Apa yang mengarakterisasi pendekatan kritis terhadapa identitas yang diringkas dalam bab ini merupakan pentingnya hubungan kekuatan dimasyarakat saat anda menempatkan diri berhadapan dengan arus atau masyarakat marjinal.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: