Teori Efek Media

25 Apr

Teori perubahan sikap ( attitude change theory )

Menurut Carl Hovland, teori perubahan sikap ( attitude change theory ) memberikan penjelasan bagaimana sikap seseorang terbentuk dan bagaimana sikap seseorang itu dapat berubah melalui proses komunikasi dan bagaimana sikap itu dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Dalam teori perubahan sikap ( attitude change theory ) menyatakan bahwa seseorang akan mengalami proses ketidaknyamanan di dalam dirinya  bila dihadapkan pada sesuatu yang baru yang bertentangan dengan keyakinannya. Sehingga membutuhkan waktu untuk menganalisa sehingga sampai pada sebuah keyakinan untuk mengambilnya atau tidak sesuai dengan tabiatnya.

Dalam upaya mengurangi ketidaknyamanan tersebut, seseorang secara otomatis akan melakukan tiga proses selektif yaitu:

  1. Penerimaan Informasi Selektif

Merupakan proses dimana orang hanya akan menerima informasi yang sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang sudah dimilikinya.

  1. Ingatan Selektif

Ingatan selektif mengasumsikan orang tidak mudah lupa atau sangat mengingat pesan yang sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang sudah dimiliknya.

  1. Persepsi Selektif

Orang akan memberikan interpretasinya terhadap setiap pesan yang diterimanya sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang sudah dimilikinya.

Teori kognitif sosial ( social cognitive theory )

Teori kognitif sosia ( social cognitive theory ) yang diperkenalkan oleh Albert Bandura memiliki argumentasi bahwa manusia meniru perilaku yang dilihatnya. Proses peniruan ini terjadi dengan dua cara yaitu imitasi dan identifikasi. Imitasi yaitu proses peniruan secara langsung dari perilaku yang diamati. Identifikasi adalah perilaku meniru yang bersifat khusus yang mana pengamat tidak meniru secara persis.

Teori kognitif sosia ( social cognitive theory ) menjelaskan pemikiran dan tindakan manusia sebagai proses saling mempengaruhi satu sama lain dengan berbagai variasi kekuatannya. Proses interaksi dan saling mempengaruhi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu  pertama, simbolisasi yang dimaknai sebagai suatu sistem dari makna bersama yang dikenal sebagai bahasa yang tersusun dari berbagai simbol. Kedua, pengaturan diri yang dimaknai sebagai kemampuan untuk memotivasi dan evaluasi. Ketiga, koreksi diri yang dimaknai sebagai kemampuan untuk bercermin atau merefleksi diri. Keempat, kemampuan belajar yang dimaknai sebagai kemampuan belajar dari sumber lain tanpa harus memiliki pengalaman langsung.

            Pengamatan dan Peniruan

Teori kognitif sosial memiliki argumen bahwa manusia meniru perilaku melalui dua cara yaitu identifikasi dan imitasi. Proses tersebut adalah hasil dari tiga proses yaitu:

  1. Pengamatan (observation learning)

Yaitu manusia mengamati suatu perilaku atau menerima perlakuan orang lain atau tindakan dengan cara melihatnya. Perilaku pengamatan sehingga bisa menirukan ini disebut dengan “modeling” yang meliputi empat proses yakni,

  • Perhatian, seseorang harus memperhatikan penuh dan cermat terhadap setiap perilaku orang agar ia dapat melakukan tindakan sebagaimana orang tersebut.
  • Ingatan, perilaku yang telah diamati diingat dan disimpan untuk digunakan dikemudian hari. Orang menyimpan informasi dengan simbol simbol  (representasi simbolik) yang nantinya diubah menjadi tindakan.
  • Reproduksi Tindakan, melakukan peniruan tindakan sesuai dengan apa yang telah diamati dan diingat. Berupa penterjemahan kode-kode kognitif menjadi tindakan atau perilaku.
  • Motivasi, perilaku meniru sangat ditentukan oleh motivasi pelaku. Apakah ada dorongan dari dalam diri individu atau tidak untuk melakukan peniruan.
  1. Efek Larangan (Inhibitory Effect)

Efek larangan terjadi jika tindakan atau perilakuyang diamati menghalangi atau mencegah pengamat untuk menirunya. Misal, seorang perokok memutuskan untuk berhenti merokok setelah melihat teman dekatnya menderita sakit paru-paru.

  1. Efek Suruhan (Disinhibitory Effect)

Merupakan kebalikan dari efek larangan yang justru mendorong untuk melakukan suatu tindakan yang sebelumnya dihindari atau tidak ingin dilakukan. Dengan kata lain, efek suruhan merupakan proses yang mana seseorang mendapat penghargaan (misal dari lingkungan baru) karena melakukan sesuatu yang dilarang. Misal, seseorang yang dididik dengan nilai agaa yang tinggi dan dilarang meminum alkohol, akan tetapi ditempat yang baru dan memiliki teman yang terbiasa minum alkohol menyebabkan nilai yang dipegangnya mengenai alkohol menjadi kendor.

Teori Kultivasi ( George Gebner )

                        Teori Kultivasi dikemukakan oleh penelitian Geroge Gebner yaitu seorang mantan dekan komunikasi Universitas Pensylvania dan pernah membantu pemerintah Amerika Serikat dalam meneliti efek tayangan televisi.Dalam penelitiannya disebutkan bahwa semakin sering seseorang menonton televisi akan memiliki kepercayaan atau keyakinan yang berlebihan tentang realitas sosial (kejahatan, kemiskinan, kerusuhan, kepanikan sosial dll ).

Gerbner menegaskan bahwa televisi adalah sistem pencitraan terpusat. Televisi telah menjadi bagian keseharian kita. Drama, iklan, berita dan program lainnyamenyajikan dunia gambar dan dunia peran yang sama yang relatif menyatu (koheren) ke dalam setiap rumah.pola mengulang-ngulang pesan dangambar produksi massal televisi membentuk arus utama dari lingkungan simbolik utama.

Asumsi Dasar

Teori kultivasi mengajukan tiga asumsi dasar untuk mengedepankan gagasan bahwa realitas yang diperantarai oleh televisi menyebabkan khalayak menciptakan realitas sosial mereka sendiri yang berbeda dengan realitas sebenarnya. Ketiga asumsi dasar itu adalah :

  1. TV adalah media yang sangat berbeda

Televisi memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan media lain. TV adalh media yang memiliki daya jangkau paling besar dan paling mudah untuk menjangkau anak-anak maupun orang tua.

  1. TV membentuk cara masyarakat berfikir dan berinteraksi

Menyaksikan televisi membuat kita memiliki gambaran tersendiri mengenai dunia luar (nyata). Tayangan kekerasan yang berulang akan memberikan gambaran bahwa kejahatan dan tindakan anarkis begitu merajalela di luar sana. Padahal jumlah yang sebenarnya tak sebanyak yang ditampilkan televisi.

  1. Pengaruh TV bersifat terbatas

Penelitian kultivasi tidak memandang televisi sebagai media yang memiliki kekuatan besar, melainkan sebagai media yang memiliki pengaruh terbatas terhadap individu dan budaya.

Proses Kultivasi

Bagaimana televisi mempengaruhi penonton dalam memandang dunia, Gerbner mengemukakan dua alasan yaitu :

  1. Mainstreaming

Mainstreaming adalah proses mengikuti arus utama yang terjadi ketika berbagai simbol, ide dan informasi yang ditayangkan televisi mendominasi dan mengalahkan informasi, simbol dari sumber lain. Atau menurut West dan Turner menegaskan bahwa mainstreaming adalah kecenderungan bagi penonton kelompok berat untuk menerima suatu realitas budaya dominan yang sama dengan realitas yang digambarkan media, meskipun realita yang digambarkan media tidak sama dengan realitas yang sebenarnya.

  1. Resonansi

Resonansi terjadi ketika apa yang disajika oleh media sama dengan realitas aktual yang dihadapi penonton. Dengan kata lain realitas eksternal objektif masyarakat bergema atau bergaung di TV. Jadi apa yang terjadi dimasyarakat terdengar gema atau gaungnya ti TV dan diterima oleh penonton. Meskipun objektif namun efek yang ditimbulkan adalah terjadinya penghalangan atau hambatan untuk terbentuknya realitas sosial yang lebih optimis atau positif. Realitas yang ditayangkan televisi menghilangkan harapan bahwa mereka dapat mewujudkan situasi yang leibih baik.

                       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: