Unsur unsur Dakwah (3)

26 Apr

5. Thariqoh (Metode) Dakwah

Metode memiliki pengertian “suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana, sistem, tata pikir manusia”.[1] Sedangkan dalam metodologi pengajaran islam metode diartikan sebagai “suatu cara yang sistematis dan umum terutama dalam mencapai kebenaran ilmiah”.[2]

Metode dakwah mutlak dibutuhkan oleh seorang juru dakwwah untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Karena suatu pesan walaupun mengandung kebenaran yang hakiki tetapi disampaikan dengan metode yang kurang tepat akan mempengaruhi kualitas penerimaan oleh  penerima dakwah (mad’u).

Landasan umum dalam metode dakwah adalah sesuai dengan yang tercantum didalam Al Quran Surat An Nahl ayat 125. Dimana Allah secara tersurat menjelaskan  metodologi dakwah. Adapun kerangka dasar tentang metode dakwah yang terdapat pada ayat tersebut adalah:

 

  1. Bi Al Hikmah

Kata hikmah seringkali diterjemahkan dalam pengertian bijaksana, yaitu suatu pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan apa yang didakwahkan atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, konflik mauoun rasa tertekan. Dalam bahasa komunikasi disebut sebagai frame of reference, field of referene, field of experience, yaitu situasi total yang mempengaruhi sikap pihak komunikan (objek dakwah).[3]

Menurut Syech Imam Nawawi Al Bantani, dalam tafsir Al Munir bahwa Al Hikmah adalah Al Hujjah Al Qoth’iyyah Al Mufidah lil Al-‘Aqoid Al Yaqiniyyah[4]( Hikmah adalah dalil-dalil yang qath’i dan berfaedah bagi kaidah-kaidah keyakinan).

Dakwah bil hikmah adalah sebuah metode komunikasi dakwah yang bersifat persuasif, yang bertumpu kepada human oriented, maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan kepada hak-hak yang bersifat demokratis agar fungsi dakwah yang bersifat informatif dapat diterima dengan baik. Sebagaimana ketentuan Allah dalam Al Quran:

“Bahwasannya engkau adalah pemberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al Ghasiyah (88): 21-22)

Dengan demikian dapat diketahui bahwa hikmah mengajak manusia menuju jalan Allah tidak terbatas pada perkataan lembut, kesabaran,ramah tamah dan lapang dada, tetapi juga tidak melakukan sesuatu melebihi ukurannya. Dengan kata lain harus menempatkan sesuatu pada tempatnya.[5]

2. Mauizhah Hasanah

Adalah memberikan nasihat yang baik kepada orang lain dengan cara yang baik, yaitu petunjuk-petunjuk ke arah kebaikan dengan bahasa yang baik, dapat diterima, berkenan dihati,lurus pikiran sehingga pihak yang menjadi objek dakwah dengan rela hati dan atas kesadarannya sendiri dapat mengikuti ajaran yang disampaikan. Jadi dakwah bukan propaganda.[6]

Sedangkan menurut Ali Musthafa Ya’kub dalam Sejarah dan Metode Dakwah Nabi dikatakan bahwa mauizhah Hasanah adalah ucapan yang berisi nasihat yang baik dan bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya, atau argumen-argumen yang memuaskan sehingga pihak audiensi dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah.[7]

Seorang dai harus mampu mengukur tingkat intelektualitas objek dakwahnya, sehingga apa yang disampaikan mampu diterima dan dicerna dengan baik serta ajaran-ajaran islam yang merupakan materi dakwah dapat teraplikasi didalam keseharian masyarakat. Hal ini sesuai dengan pesan Rosulullah dalam sebuah hadits :

“Berbicaralah kamu dengan manusia sesuai dengan kadar kemampuannya”

3. Mujadalah

Mujadalah adalah berdiskusi dengan cara yang baik dari cara-cara berdiskusi yang sudah ada.[8]

Mujadalah merupakan cara terkahir yang digunakan untuk berdakwah dengan orang-orang yang memiliki daya intelektualitas dan cara berpikir yang maju. Seperti digunakan untuk berdakwah dengan ahli kitab. Oleh karena itu al Quran juga memberi  perhatian khusus tentang berdakwah dengan ahli kitab karena mereka memang telah dibekali pemahaman keagamaan dari utusan terdahulu. Al Quran juga melarang berdebat dengan mereka kecuali dengan jalan yang baik.

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) melainkan dengan cara yang baik. Kecuali dengan orang-orang yang zhalim diantara mereka”QS. Al Ankabut (29) :46

            Berbekal ayat tersebut , kaum muslim dilarang berdebat dengan ahli ktab kecuali dengan cara yang baik, sopan santun, lemah lembut dan menunjukkan ketinggian budi ummat islam kecuali jika mereka menampakkan keangkuhan dan kezhaliman.

6. Atsar (Efek) Dakwah

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap aktivitas dakwah akan menuai reaksi baik positif maupun negatif. Artinya adalah setiap dakwah akan memiliki efek (atsar) pada objek dakwah.

Kemampuan menganalisa efek dakwah sangat penting dalam menetukan langkah-langkah dan strategi dakwah selanjutnya. Tanpa menganalisis efek dakwah kemungkinan kesalahan strategi dakwah yang bisa merugikan tujuan dakwag dapat terulang kembali.

Efek dakwah seringkali disebut feed back (umpan balik) dai proses dakwah ini seringkali diabaikan oleh pelaku dakwah. Mereka seakan merasa tugas dakwah selesai manakala telah selesai menyampaikan materi dakwah.

Nilai penting dari efek dakwah terletak dalam kemampuan mengevaluasi dan koreksi terhadap metode dakwah. Hal tersebut harus dilakukan dengan komprehensif dan radikal, artinya tidak parsial, menyeluruh, tidak setengah-setengah. Seluruh unsur-unsur dakwah harus dievaluasi secara total guna efektifitas yang menunjang keberhasilan tujuan dakwah.

Menurut Jalaludin rahmay efek Kognitif bisa terlihat bila ada perubahan pada apa yang diketahui,dipahami dan dipersepsi khalayak. Efek Afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang disenangi dan dibenci khalayak yang meliputi emosi,sikap serta nilai. Sedangkan efek behavioral dapat diketahui dengan perilaku nyata yang diamati, yang meliputi pola-pola tindakan,  kegiatan atau kebiasaan berperilaku.[9]


[1] M.Syafaat Habib, Buku Pedoman Dakwah,(Jakarta: Wijaya,1992), cet-ke I,h.160

[2] Soeleman Yusuf,Slamet Soesanto,Pengantar Pendidikan Sosial,(Surabaya: Usaha Nasional,1981), h. 38

[3] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah(Jakarta: Media Pratama,1987),h. 37

[4] Syech Muhammad Nawawi Al Jawi Al Bantani, Tafsir Al Munir lil Mu’alim Al Tanzil, Juz I,

Indonesia: Maktabah Dar Ihya Al Kutub Al Arabiyyah, tt. h. 469

[5] Siti Muriah,Metode Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta: Mitra Pustaka,2000), h. 42-43

[6] Ibid,h. 43-44

[7] Ali Musthafa Ya’kub, Sejarah Dan Metode Dakwah Nabi,(Jakarta: Pustaka Firdaus,1997), h. 21

[8] Siti Muriah,Metode Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta: Mitra Pustaka,2000), h. 21

[9] Jalaludin Rahmat, Retorika Modern, Sebuah Kerangka Teori dan Praktik Berpidato,( Bandung: Akademika, 1982), h. 269

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: